Seorang penganut Islam menikah dengan seorang penganut agama lain sehingga pasangannya masuk Islam. Contohnya Pedagang Islam dari Gujarat, Persia, dan Arab menetap di Indonesia dan menikahi wanita Indonesia. Di antara wanita yang mereka nikahi adalah putri raja dan bangsawan. Keturunan-keturunan mereka pasti memeluk agama Islam. Sesudah raja-rajanya memeluk Islam, sudah pasti rakyatnya dengan mudah dapat terpengaruh sehingga mereka memeluk agama Islam.
Sumber: Cara penyebaran Islam di indonesia (buku paket sejarah kelas x,Redaksi, “Tasawuf, Mutiara Yang Mulai di Ingat Lagi,” Ulumul Qur’an 1, 1989.)
Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat terkenal dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islamke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak.
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga adalah Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari desa kalijaga di cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.
Sumber: Biografi tokoh penyebar islam (buku paket sejarah kelas x, buku WALISONGO)
Kerajaan Gowa-Tallo sebelum menjadi kerajaan Islam sering berperang dengan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, seperti dengan Luwu, Bone, Soppeng, dan Wajo. Kerajaan Luwu yang bersekutu dengan Wajo ditaklukan oleh Kerajaan Gowa-Tallo. Kemudian Kerajaan Wajo menjadi daerah taklukan Gowa menurut Hikayat Wajo.
Dalam serangan terhadap Kerajaan Gowa-Tallo, Karaeng Gowa meninggal dan seorang lagi terbunuh sekitar pada 1565. Ketiga Kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng mengadakan persatuan untuk mempertahankan kemerdekaannya yang disebut perjanjian Tellumpocco, sekitar 1582. Sejak Kerajaan Gowa resmi sebagai kerajaan bercorak Islam pada 1605, Gowa meluaskan pengaruh politiknya, agar kerajaan-kerajaan lainnya juga memeluk Islam dan tunduk kepada Kerajaan Gowa-Tallo. Kerajaan-kerajaan yang tunduk
kepada Kerajaan Gowa-Tallo antara lain Wajo pada 10
Mei 1610, dan Bone pada 23 November 1611.
Di daerah Sulawesi Selatan proses Islamisasi makin mantap dengan adanya para mubalig yang disebut Dato’ Tallu (Tiga Dato), yaitu Dato’ Ri Bandang (Abdul Makmur atau Khatib Tunggal) Dato’ Ri Pattimang (Dato’ Sulaemana atau Khatib Sulung), dan Dato’ Ri Tiro (Abdul Jawad alias Khatib Bungsu), ketiganya bersaudara dan berasal dari Kolo Tengah, Minangkabau. Para mubalig itulah yang mengislamkan Raja Luwu yaitu Datu’ La Patiware’ Daeng Parabung dengan gelar Sultan Muhammad pada 15-16 Ramadhan 1013 H (4-5 Februari 1605 M). Kemudian disusul oleh Raja Gowa dan Tallo yaitu Karaeng Matowaya dari Tallo yang bernama I Mallingkang Daeng Manyonri (Karaeng Tallo) mengucapkan syahadat pada Jumat sore, 9 Jumadil Awal 1014 H atau 22 September 1605 M dengan gelar Sultan Abdullah.
Selanjutnya Karaeng Gowa I Manga’ rangi Daeng Manrabbia
mengucapkan syahadat pada Jumat, 19 Rajab 1016 H atau
9 November 1607 M. Perkembangan agama Islam di
daerah Sulawesi Selatan mendapat tempat sebaik-baiknya
bahkan ajaran sufisme Khalwatiyah dari Syaikh Yusuf
al-Makassari juga tersebar di Kerajaan Gowa dan kerajaan
lainnya pada pertengahan abad ke-17. Karena banyaknya tantangan
dari kaum bangsawan Gowa maka ia meninggalkan
Sulawesi Selatan dan pergi ke Banten. Di Banten ia terima
oleh Sultan Ageng Tirtayasa bahkan dijadikan menantu dan
diangkat sebagai mufti di Kesultanan.
Dalam sejarah Kerajaan Gowa perlu dicatat tentang sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin dalam mempertahankan kedaulatannya terhadap upaya penjajahan politik dan ekonomi kompeni (VOC) Belanda. Semula VOC tidak menaruh perhatian terhadap Kerajaan Gowa-Tallo yang telah mengalami kemajuan dalam bidang perdagangan. Berita tentang pentingnya Kerajaan Gowa-Tallo didapat setelah kapal Portugis dirampas oleh VOC pada masa Gubernur Jendral J. P. Coen di dekat perairan Malaka. Di dalam kapal tersebut terdapat orang Makassar. Dari orang Makassar itulah ia mendapat berita tentang pentingnya Pelabuhan Somba Opu sebagai pelabuhan transit terutama untuk mendatangkan rempah-rempah dari Maluku.
Pada 1634 VOC memblokir Kerajaan Gowa tetapi tidak berhasil. Peristiwa peperangan dari waktu ke waktu terus berjalan dan baru berhenti antara 1637-1638. Sempat tercipta perjanjian damai namun tidak kekal karena pada 1638 terjadi perampokan kapal orang Bugis yang bermuatan kayu cendana, dan muatannya dijual kepada orang Portugis. Perang di Sulawesi Selatan ini berhenti setelah terjadi perjanjian Bongaya pada 1667 yang sangat merugikan pihak Gowa-Tallo.
Sumber: Sejarah Kerajaan islam (buku paket sejarah kelas x)
Kerajaan Banten berawal sekitar tahun 1526,
ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau
Jawa, dengan menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya
sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan. Maulana Hasanuddin, putera
Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan
tersebut, Maulana Hasanuddin
atau lebih sohor dengan sebutan
Fatahillah, mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian
hari menjadi pusat pemerintahan, yakni Kesultanan Banten.
Pada awalnya, kawasan Banten dikenal
dengan nama Banten Girang yang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Kedatangan
pasukan kerajaan di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut
selain untuk perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam. Kemudian
dipicu oleh adanya kerja sama Sunda-Portugis dalam bidang ekonomi dan politik,
hal ini dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan
mereka mengusir Portugis dari Malaka tahun 1513. Atas perintah Sultan
Trenggono, Fatahillah melakukan penyerangan dan penaklukan Pelabuhan Sunda
Kelapa sekitar tahun 1527, yang waktu itu masih merupakan pelabuhan utama dari
Kerajaan Sunda.
Selain mulai membangun benteng pertahanan di Banten, Fatahillah juga melanjutkan perluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada di Lampung. Ia berperan dalam penyebaran Islam di kawasan tersebut, selain itu ia juga telah melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabu (Minangkabau, Kerajaan Indrapura), Sultan Munawar Syah dan dianugerahi keris oleh raja tersebut.
Seiring dengan kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Sultan Trenggono, maka Banten melepaskan diri dan menjadi kerajaan yang mandiri. Pada 1570 Fatahillah wafat. Ia meninggalkan dua orang putra laki-laki, yakni Pangeran Yusuf dan Pangeran Arya (Pangeran Jepara). Dinamakan Pangeran Jepara, karena sejak kecil ia sudah diikutkan kepada bibinya (Ratu Kalinyamat) di Jepara. Ia kemudian berkuasa di Jepara menggantikan Ratu Kalinyamat, sedangkan Pangeran Yusuf menggantikan Fatahillah di Banten.
Sumber: Sejarah Kerajaan islam (buku paket sejarah kelas x)
Setelah Kerajaan Demak berakhir, berkembanglah Kerajaan
Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Di bawah kekuasaannya, Pajang
berkembang baik. Bahkan berhasil mengalahkan Arya Penangsang yang berusaha
merebut kekuasaannya. Tokoh yang membantunya mengalahkan Arya Penangsang di
antaranya adalah Ki Ageng Pemanahan (Ki Gede Pemanahan). la diangkat sebagai
bupati (adipati) di Mataram. Kemudian putranya, Raden Bagus (Danang) Sutawijaya
diangkat anak oleh Sultan Hadiwijaya dan dibesarkan di istana. Sutawijaya
dipersaudarakan dengan putra mahkota, bernama Pangeran Benowo.
Pada tahun 1582, Sultan Hadiwijaya meninggal
dunia. Penggantinya, Pangeran Benowo merupakan raja yang lemah. Sementara
Sutawijaya yang menggantikan Ki Gede Pemanahan justru semakin menguatkan
kekuasaannya sehingga akhirnya Istana Pajang pun jatuh ke tangannya. Sutawijaya
segera memindahkan pusaka Kerajaan Pajang ke Mataram. Sutawijaya sebagai raja
pertama dengan gelar: Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama.
Pusat kerajaan ada di Kota Gede, sebelah tenggara Kota Yogyakarta sekarang.
Panembahan Senapati digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang
(1601-1613). Mas Jolang kemudian digantikan oleh putranya bernama Mas Rangsang
atau lebih dikenal dengan nama Sultan Agung (1613-1645). Pada masa pemerintahan
Sultan Agung inilah Mataram mencapai zaman keemasan.
Dalam
bidang politik pemerintahan, Sultan Agung berhasil memperluas wilayah Mataram
ke berbagai daerah yaitu, Surabaya (1615), Lasem, Pasuruhan (1617), dan Tuban
(1620). Di samping berusaha menguasai dan mempersatukan berbagai daerah di
Jawa, Sultan Agung juga ingin mengusir VOC dari Kepulauan Indonesia. Kemudian
diadakan dua kali serangan tentara Mataram ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629.
Mataram berkembang menjadi kerajaan agraris. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah-daerah persawahan yang luas. Seperti yang dilaporkan oleh Dr. de Han, Jan Vos dan Pieter Franssen bahwa Jawa bagian tengah adalah daerah pertanian yang subur dengan hasil utamanya adalah beras. Pada abad ke-17, Jawa benar-benar menjadi lumbung padi. Hasil-hasil yang lain adalah kayu, gula, kelapa, kapas, dan hasil palawija.
Sumber :Bambang Budi Utomo. 2011.
Atlas Sejarah Indonesia Masa Islam. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan
Pariwisata.
Masjid Agung Surakarta
Di
Mataram dikenal beberapa kelompok dalam masyarakat. Ada golongan raja dan
keturunannya, para bangsawan dan rakyat sebagai kawula kerajaan. Kehidupan
masyarakat bersifat feodal karena raja adalah pemilik tanah beserta seluruh
isinya. Sultan dikenal sebagai panatagama,
yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Oleh karena itu,
Sultan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rakyat sangat hormat dan patuh,
serta hidup mengabdi pada sultan.
Bidang
kebudayaan juga maju pesat. Seni bangunan, ukir, lukis, dan patung mengalami
perkembangan. Kreasi-kreasi para seniman, misalnya terlihat pada pembuatan
gapura-gapura, serta ukir-ukiran di istana dan tempat ibadah. Seni tari yang
terkenal adalah Tari Bedoyo Ketawang. Dalam
prakteknya, Sultan Agung memadukan unsur-unsur budaya
Islam dengan budaya Hindu-Jawa. Sebagai contoh, di Mataram d i s e l e n g g a
r a k a n perayaan sekaten untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw.
dengan
membunyikan gamelan Kyai Nagawilaga dan Kyai Guntur Madu. Kemudian juga
diadakan upacara grebeg.
Grebeg diadakan tiga kali dalam satu tahun, yaitu setiap
tanggal 10 Dzulliijah (Idul Adha), 1 Syawal (Idul Fitri), dan
tanggal 12 Rabiulawal (Maulid Nabi). Bentuk dan kegiatan
upacara grebeg adalah mengarak gunungan dari keraton ke depan masjid agung.
Gunungan biasanya dibuat dari berbagai makanan, kue, dan hasil bumi yang
dibentuk menyerupai gunung. Upacara grebeg
Sumber : Taufik Abdullah dan A.B
Lapian (ed). 2012. Indonesia Dalam Arus
Sejarah.Jilid III. Jakarta. PT
Ichtiar Baru van Hoeve.
Tradisi Sekaten
merupakan sedekah sebagai rasa syukur dari raja kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan juga sebagai pembuktian kesetiaan para bupati dan
punggawa kerajaan kepada rajanya.
Sultan Agung wafat pada 1645. Ia
dimakamkan di Bukit Imogiri. Ia digantikan oleh putranya yang bergelar
Amangkurat I. Akan tetapi, pribadi raja ini sangat berbeda dengan pribadi
Sultan Agung. Amangkurat I adalah seorang raja yang lemah, berpandangan sempit,
dan sering bertindak kejam. Mataram mengalami kemunduran apalagi adanya
pengaruh VOC yang semakin kuat. Dalam perkembangannya
Kerajaan Mataram akhirnya dibagi dua berdasarkan
Perjanjian Giyanti (1755). Sebelah barat menjadi Kesultanan Yogyakarta dan
sebelah timur menjadi Kasunanan Surakarta.
Sumber : Taufik Abdullah dan A.B Lapian (ed). 2012. Indonesia Dalam Arus Sejarah. Jilid III. Jakarta. PT Ichtiar Baru van Hoeve.
Keraton Surakarta
Sumber: Sejarah Kerajaan islam (buku paket sejarah kelas x)
Para ahli memperkirakan Demak berdiri tahun 1500. Sementara Majapahit hancur beberapa waktu sebelumnya. Menurut sumber sejarah lokal di Jawa, keruntuhan Majapahit terjadi sekitar tahun 1478. Hal ini ditandai dengan candrasengkala, Sirna Hilang Kertaning Bhumi yang berarti memiliki angka tahun 1400 Saka. Raja pertama Kerajaan Demak adalah Raden Fatah, yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fatah. Raden Fatah memerintah Demak dari tahun 1500-1518. Menurut cerita rakyat Jawa Timur, Raden Fatah merupakan keturunan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit, yaitu Raja Brawijaya V. Di bawah pemerintahan Raden Fatah, Kerajaan Demak berkembang dengan pesat karena memiliki daerah pertanian yang luas sebagai penghasil bahan makanan, terutama beras. Selain itu, Demak juga tumbuh menjadi sebuah kerajaan maritim karena letaknya di jalur perdagangan antara Malaka dan Maluku. Oleh karena itu Kerajaan Demak disebut juga sebagai sebuah kerajaan yang agraris-maritim. Barang dagangan yang diekspor Kerajaan Demak antara lain beras, lilin dan madu. Barang-barang itu diekspor ke Malaka, Maluku dan Samudera Pasai.
Pada masa
pemerintahan Raden Fatah, wilayah kekuasaan Kerajaan Demak cukup luas, meliputi
Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi dan beberapa daerah di Kalimantan.
Daerah-daerah pesisir di Jawa bagian Tengah dan Timur kemudian ikut mengakui
kedaulatan Demak dan
mengibarkan panji-panjinya. Kemajuan yang dialami Demak
ini dipengaruhi oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Karena Malaka sudah
dikuasai oleh Portugis, maka para pedagang yang tidak simpatik dengan kehadiran
Portugis di Malaka beralih haluan menuju pelabuhan-pelabuhan Demak
seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan dan Gresik.
Pelabuhan-pelabuhan tersebut kemudian berkembang menjadi pelabuhan transit.
Masjid Agung Demak
Selain tumbuh sebagai pusat perdagangan, Demak juga tumbuh menjadi pusat penyebaran agama Islam. Para wali yang merupakan tokoh penting pada perkembangan Kerajaan Demak ini, memanfaatkan posisinya untuk lebih menyebarkan Islam kepada penduduk Jawa. Para wali juga berusaha menyebarkan Islam di luar Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam di Maluku dilakukan oleh Sunan Giri sedangkan di daerah Kalimantan Timur dilakukan oleh seorang penghulu dari Kerajaan Demak yang bernama Tunggang Parangan. Setelah Kerajaan Demak lemah maka muncul Kerajaan Pajang.
Sumber: Sejarah Kerajaan islam (buku paket sejarah kelas x)
Samudra Pasai diperkirakan tumbuh berkembang antara tahun
1270 hingga 1275, atau pertengahan abad ke-13. Kerajaan ini terletak lebih
kurang 15 km di sebelah timur Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, dengan
sultan pertamanya bernama Sultan Malik as-Shaleh (wafat tahun 696 H atau 1297
M). Dalam kitab Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai diceritakan bahwa
Sultan Malik as-Shaleh sebelumnya hanya seorang kepala Gampong Samudra bernama Marah Silu. Setelah menganut
agama Islam kemudian berganti nama dengan Malik as-Shaleh.
Berikut ini merupakan urutan para raja-raja yang
memerintah di Kesultanan Samudra Pasai:
1. Sultan Malik as-Shaleh (696 H/1297 M);
2. Sultan Muhammad Malik Zahir (1297-1326);
3. Sultan Mahmud Malik Zahir (± 1346-1383);
4. Sultan Zainal Abidin Malik Zahir (1383-1405);
5. Sultanah Nahrisyah (1405-1412);
6. Abu Zain Malik Zahir (1412);
7. Mahmud Malik Zahir (1513-1524).
Nama sultan
yang disebut terdapat dalam sumber Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai.
Nama-nama itu, kecuali nama Sultan Malikush Shaleh juga terdapat dalam mata
uang emas yang disebut dengan dirham.Pada masa pemerintahan Sultan Malik
as-Shaleh, Kerajaan Pasai mempunyai hubungan dengan negara Cina. Seperti yang
disebutkan dalam sumber sejarah Dinasti Yuan, pada 1282 duta Cina bertemu
dengan Menteri Kerajaan Sumatra di Quilan yang meminta agar Raja Sumatra
mengirimkan dutanya ke Cina. Pada tahun itu pula disebutkan bahwa kerajaan
Sumatra mengirimkan dutanya yang bernama Sulaiman dan Syamsuddin.
Menurut Tome
Pires, Kesultanan Samudera Pasai mencapai puncaknya pada awal abad ke-16.
Kesultanan itu mengalami kemajuan di berbagai bidang kehidupan seperti politik,
ekonomi, pemerintahan, keagamaan, dan terutama ekonomi perdagangan. Diceritakan
pula bahwa Kesultanan Samudera Pasai selalu mengadakan hubungan persahabatan
dengan Malaka, bahkan hubungan persahabatan itu diperkuat dengan perkawinan.
Para pedagang yang pernah mengunjungi
Pasai berasal dari berbagai negara seperti, Rumi, Turki,
Arab, Persia (Iran), Gujarat, Keling, Bengal, Melayu, Jawa, Siam, Kedah, dan
Pegu. Sementara barang komoditas yang diperdagangkan adalah lada, sutera, dan
kapur barus. Di samping komoditas itu sebagai penghasil pendapatan Kesultanan
Samudera Pasai, juga diperoleh pendapat dari pajak yang dipungut dari pajak
barang ekspor dan impor. Dalam sumber-sumber sejarah juga dijelaskan, bahwa
Kesultanan Samudera Pasai telah
menggunakan mata uang seperti uang kecil yang disebut
dengan ceitis. Uang kecil itu ada yang terbuat dari emas dan ada pula yang
terbuat dari dramas.
Dalam bidang keagamaan, Ibnu Batuta menjelaskan bahwa Kesultanan Samudera Pasai juga dikunjungi oleh para ulama dari Persia, Suriah (Syria), dan Isfahan. Dalam catatan Ibnu Batuta disebutkan bahwa Sultan Samudera Pasai sangat taat terhadap agama Islam yang bermazhab Syafi’i. Sultan selalu dikelilingi oleh para ahli teologi Islam.
Kesultanan Samudera Pasai mempunyai peranan penting dalam penyebaran
Islam di Asia Tenggara. Malaka menjadi kerajaan yang bercorak Islam karena amat
erat hubungannya dengan Kerajaan Samudera Pasai. Hubungan tersebut semakin erat
dengan diadakannya pernikahan antara putra-putri sultan dari Pasai dan Malaka
sehingga pada awal abad-15 atau sekitar 1414 M tumbuhlah Kesultanan Islam
Malaka, yang dimulai dengan pemerintahan Parameswara.
Dalam Hikayat Patani terdapat cerita tentang pengislaman Raja Patani yang bernama Paya Tu Nakpa dilakukan oleh seorang dari Pasai yang bernama Syaikh Sa’id, karena berhasil menyembuhkan Raja Patani. Setelah masuk Islam, raja berganti nama menjadi Sultan Isma’il Syah Zill Allah fi al-Alam dan juga ketiga orang putra dan putrinya yaitu Sultan Mudaffar Syah, Siti Aisyah, dan Sultan Mansyur. Pada masa pemerintahan Sultan Mudaffar Syah juga datang lagi seorang ulama dari Pasai yang bernama Syaikh Safi’uddin yang atas perintah raja ia mendirikan masjid untuk orang-orang Muslim di Patani. Demikian pula jenis nisan kubur yang disebut Batu Aceh menjadi nisan kubur raja-raja di Patani, Malaka, dan Malaysia. Pada umumnya nisan kubur tersebut berbentuk menyerupai nisan kubur Sultan Malik as-Shaleh dan nisan-nisan kubur dari sebelum abad ke-17. Dilihat dari kesamaan jenis batu serta cara penulisan dan huruf-huruf bahkan dengan cara pengisian ayat-ayat al-Qur’an dan nuansa kesufiannya, jelas Samudera Pasai mempunyai peranan penting dalam persebaran Islam di beberapa tempat di Asia Tenggara dan demikian pula di bidang perekonomian dan perdagangan. Namun, sejak Portugis menguasai Malaka pada 1511 dan meluaskan kekuasaannya, maka Kerajaan Islam Samudera Pasai mulai dikuasai sejak 1521. Kemudian Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah lebih berhasil menguasai Samudera Pasai. Kerajaan-kerajaan Islam yang terletak di pesisir seperti Aru, Kedir, dan lainnya lambat laun berada di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Aceh Darussalam yang sejak abad ke-16 makin mengalami perkembangan politik,ekonomi-perdagangan, kebudayaan dan keagamaan.
Sumber: Sejarah Kerajaan islam (buku paket sejarah kelas x)
Pada 1520 Aceh berhasil memasukkan
Kerajaan Daya ke dalam kekuasaan Aceh Darussalam. Tahun 1524, Pedir dan
Samudera Pasai ditaklukkan. Kesultanan Aceh Darussalam di bawah Sultan
Ali Mughayat Syah menyerang kapal Portugis di bawah
komandan Simao de Souza Galvao di Bandar Aceh.
Pada 1529 Kesultanan Aceh mengadakan
persiapanuntuk menyerang orang Portugis di Malaka, tetapi batal karena Sultan
Ali Mughayat Syah wafat pada 1530 dan dimakamkan di Kandang XII, Banda Aceh. Di
antara penggantinya yang terkenal adalah Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar
(1538-1571). Usaha-usahanya adalah mengembangkan kekuatan angkatan perang,
perdagangan, dan mengadakan hubungan internasional dengan kerajaan Islam di
Timur Tengah, seperti Turki, Abessinia (Ethiopia), dan Mesir. Pada 1563 ia
mengirimkan utusannya ke Konstantinopel untuk meminta bantuan dalam usaha
melawan kekuasaan Portugis.
Dua tahun
kemudian datang bantuan dari Turki berupa teknisi-teknisi, dan dengan kekuatan
tentaranya Sultan Alauddin Riayat Syah at-Qahhar menyerang dan menaklukkan banyak
kerajaan, seperti Batak, Aru, dan Barus. Untuk menjaga keutuhan Kesultanan
Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar menempatkan suami saudara
perempuannya di Barus dengan gelar Sultan Barus, dua orang putra sultan
diangkat menjadi Sultan Aru dan Sultan Pariaman dengan gelar resminya Sultan
Ghari dan Sultan Mughal, dan di daerah-daerah pengaruh Kesultanan Aceh ditempatkan
wakil-wakil dari Aceh.
Kemajuan Kesultanan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda mengundang perhatian para ahli sejarah. Di bidang politik Sultan Iskandar Muda telah menundukkan daerah-daerah di sepanjang pesisir timur dan barat. Demikian pula Johor di Semenanjung Malaya telah diserang, dan kemudian rnengakui kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam. Kedudukan Portugis di Malaka terus-menerus mengalami ancaman dan serangan, meskipun keruntuhan Malaka sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara baru terjadi sekitar tahun 1641 oleh VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) Belanda. Perluasan kekuasaan politik VOC sampai Belanda pada dekade abad ke-20 tetap menjadi ancaman bagi Kesultanan Aceh.
Sumber: Sejarah Kerajaan islam (buku paket sejarah kelas x)
Pusat-pusat integrasi Nusantara berlangsung melalui penguasaan laut. Pusat-pusat integrasi itu selanjutnya ditentukan oleh keahlian dan kepedulian terhadap laut, sehingga terjadi perkembangan baru, setidaknya dalam dua hal, yaitu (i) pertumbuhan jalur perdagangan yang melewati lokasi-lokasi strategis di pinggir pantai, dan (ii) kemampuan mengendalikan (kontrol) politik dan militer para penguasa tradisional (raja-raja) dalam menguasai jalur utama dan pusat-pusat perdagangan di Nusantara. Jadi, prasyarat untuk dapat menguasai jalur dan pusat perdagangan ditentukan oleh dua hal penting yaitu perhatian atau cara pandang, dan kemampuan menguasai lautan.
Jalur-jalur perdagangan yang berkembang di Nusantara sangat ditentukan oleh kepentingan ekonomi pada saat itu dan perkembangan rute perdagangan dalam setiap masa yang berbedabeda. Jika pada masa praaksara hegemoni budaya dominan datang dari pendukung budaya Austronesia di Asia Tenggara Daratan, maka pada masa perkembangan Hindu-Buddha di Nusantara terdapat dua kekuatan peradaban besar, yaitu Cina di utara dan India di bagian barat daya. Keduanya merupakan dua kekuatan super power pada masanya dan mempunyai pengaruh amat besar terhadap penduduk di Kepulauan Indonesia.
Bagaimanapun, peralihan rute perdagangan dunia ini telah membawa berkah tersendiri bagi masyarakat dan suku bangsa di Nusantara. Mereka secara langsung terintegrasi ke dalam jaringan perdagangan dunia pada masa itu. Selat Malaka menjadi penting sebagai pintu gerbang yang menghubungkan antara pedagang-pedagang Cina dan pedagang-pedagang India. Pada masa itu, Selat Malaka merupakan jalur penting dalam pelayaran dan perdagangan bagi pedagang yang melintasi bandarbandar penting di sekitar Samudra Indonesia dan Teluk Persia. Selat itu merupakan jalan laut yang menghubungkan Arab dan India di sebelah barat laut Nusantara, dan dengan Cina di sebelah timur laut Nusantara.
Jalur ini merupakan pintu gerbang pelayaran yang dikenal dengan nama “jalur sutra”. Penamaan ini digunakan sejak abad ke-1 M hingga abad ke-16 M, dengan komoditas kain sutera yang dibawa dari Cina untuk diperdagangkan di wilayah lain. Ramainya rute pelayaran ini mendorong timbulnya bandar-bandar penting di sekitar jalur, antara lain Samudra Pasai, Malaka, dan Kota Cina (Sumatra Utara sekarang).
Kehidupan penduduk di
sepanjang Selat Malaka menjadi lebih sejahtera oleh proses integrasi
perdagangan dunia yang melalui jalur laut tersebut. Mereka menjadi lebih
terbuka secara
sosial ekonomi untuk menjalin hubungan niaga dengan pedagangpedagang
asing yang melewati jalur itu. Di samping itu, masyarakat setempat juga semakin
terbuka oleh pengaruhpengaruh budaya luar. Kebudayaan India dan Cina ketika itu
jelas sangat berpengaruh terhadap
masyarakat di sekitar Selat Malaka. Bahkan sampai saat ini pengaruh
budaya terutama India masih dapat kita jumpai pada masyarakat sekitar Selat
Malaka.
Selama masa Hindu-Buddha
di samping kian terbukanya jalur niaga Selat Malaka dengan perdagangan dunia
internasional, jaringan perdagangan dan budaya antarbangsa dan penduduk
di Kepulauan Indonesia juga berkembang pesat terutama karena terhubung
oleh jaringan Laut Jawa hingga Kepulauan Maluku. Mereka secara tidak langsung
juga terintegrasikan dengan jaringan ekonomi dunia yang berpusat di sekitar
Selat Malaka, dan sebagian di pantai barat Sumatra seperti Barus. Komoditas penting yang menjadi barang perdagangan pada
saat itu adalah rempah-rempah, seperti kayu manis, cengkih, dan pala.
Pertumbuhan jaringan dagang internasional dan antarpulau telah melahirkan kekuatan politik baru di Nusantara. Peta politik di Jawa dan Sumatra abad ke-7, seperti ditunjukkan oleh D.G.E. Hall, bersumber dari catatan pengunjung Cina yang datang ke Sumatra. Dua negara di Sumatra disebutkan, Mo-lo-yeu (Melayu) di pantai timur, tepatnya di Jambi sekarang di muara Sungai Batanghari.
Sumber: Cara penyebaran Islam di indonesia (buku paket sejarah kelas x,Redaksi, “Tasawuf, Mutiara Yang Mulai di Ingat Lagi,” Ulumul Qur’an 1, 1989.)
Sunan Ampel adalah salah seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau jawa. Ia lahir 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama jeumpa.
Ayah Sunan Ampel atau Raden Rahmat bernama
Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi, yang kemudian dikenal dengan
sebutan Sunan Gresik. Ibunya bernama Dewi Chandrawulan, saudara kandung Putri
Dwarawati Murdiningrum, ibu Raden Fatah, istri raja Majapahit Prabu Brawijaya
V. Istri Sunan Ampel ada dua yaitu: Dewi Karimah dan Dewi Chandrawati.
Dengan istri pertamanya, Dewi Karimah,
dikaruniai dua orang anak yaitu: Dewi Murtasih yang menjadi istri Raden Fatah
(sultan pertama kerajaan Islam Demak Bintoro) dan Dewi Murtasimah yang menjadi
permaisuri Raden Paku atau Sunan Giri. Dengan Istri keduanya, Dewi Chandrawati,
Sunan Ampel memperoleh lima orang anak, yaitu: Siti Syare’at, Siti Mutmainah,
Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum, Ibrahim atau Sunan Bonang, serta Syarifuddin
atau Raden Kosim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Drajat atau
kadang-kadang disebut Sunan Sedayu.
Dalam catatan Kronik Tiongkok
dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu
dari Haji Bong Tak Keng – seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab
Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Tionghoa di Champa oleh Sam
Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu – menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan
sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En
Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Tionghoa di Tuban.
Syekh Jumadil Qubro (alias Haji Bong Tak
Keng), dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak bersama sama
datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di
pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan, dan adiknya
Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.
Di Kerajaan Champa, Maulana Malik Ibrahim
berhasil mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya mengubah Kerajaan Champa
menjadi Kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri raja Champa (adik
Dwarawati), dan lahirlah Raden Rahmat. Di kemudian hari Maulana Malik Ibrahim
hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.
Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke pulau
Jawa pada tahun 1443 untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang
putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu
Kertawijaya.
Pada tahun 1479, Sunan Ampel
mendirikan Mesjid Agung Demak. Dan yang menjadi penerus untuk melanjutkan
perjuangan dakwah dia di Kota Demak adalah Raden Zainal Abidin yang dikenal
dengan Sunan Demak, dia merupakan putra dia dari istri dewi Karimah.Sehingga
Putra Raden Zainal Abidin yang terakhir tercatat menjadi Imam Masjid Agung
tersebut yang bernama Raden Zakaria (Pangeran Sotopuro).
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel,Surabaya.
Sumber: Biografi tokoh penyebar islam (buku paket sejarah kelas x, buku WALISONGO)